Kota Manado adalah ibu kota dari provinsi Sulawesi
Utara. Kota Manado seringkali disebut sebagai Menado. Motto Sulawesi
Utara adalah Si Tou Timou Tumou Tou, sebuah filsafat hidup masyarakat
Minahasa yang dipopulerkan oleh Sam
Ratulangi, yang berarti: “Manusia hidup untuk memanusiakan orang lain” atau
“Orang hidup untuk menghidupkan orang lain”. Dalam ungkapan Bahasa
Manado, sering kali dikatakan: “Baku beking pande” yang secara harafiah
berarti “Saling menambah pintar dengan orang lain”.
Kota Manado berada di tepi pantai Laut
Sulawesi persisnya di Teluk
Manado. Taman Nasional Bunaken terletak tidak
jauh dari pantai Kota Manado.
A.Sejarah
Kota Manado merupakan pengembangan dari sebuah negeri yang
bernama Pogidon. Kota Manado diperkirakan telah dikenal sejak abad ke-16.
Menurut sejarah, pada abad itu jugalah Kota Manado telah didatangi oleh
orang-orang dari luar negeri. Nama “Manado” daratan mulai digunakan pada
tahun 1623 menggantikan
nama “Pogidon” atau “Wenang”. Kata Manado sendiri merupakan nama pulau disebelah
pulau Bunaken, kata ini berasal dari bahasa daerah Minahasa yaitu Mana
rou atau Mana dou yang dalam bahasa
Indonesia berarti “di jauh”. Pada tahun itu juga, tanah
Minahasa-Manado mulai dikenal dan populer di antara orang-orang Eropa dengan
hasil buminya. Hal tersebut tercatat dalam dokumen-dokumen sejarah.
Keberadaan kota Manado dimulai dari adanya besluit Gubernur
Jenderal Hindia Belanda tanggal 1 Juli 1919. Dengan besluit itu, GewestManado
ditetapkan sebagai Staatsgemeente yang kemudian dilengkapi dengan
alat-alatnya antara lain Dewan gemeente atau Gemeente Raad yang
dikepalai oleh seorang Walikota (Burgemeester). Pada tahun 1951, Gemeente Manado
menjadi Daerah Bagian Kota Manado dari Minahasa sesuai Surat Keputusan
Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223.
Tanggal 17
April 1951,
terbentuklah Dewan Perwakilan Periode 1951-1953 berdasarkan Keputusan Gubernur
Sulawesi Nomor 14. Pada 1953 Daerah Bagian Kota Manado berubah statusnya menjadi
Daerah Kota Manado sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 42/1953 juncto Peraturan
Pemerintah Nomor 15/1954. Tahun 1957, Manado menjadi Kotapraja sesuai Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1957. Tahun 1959,
Kotapraja Manado ditetapkan sebagaiDaerah
Tingkat II sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959. Tahun 1965, Kotapraja Manado
berubah status menjadi Kotamadya Manado yang dipimpin oleh Walikotamadya Manado
KDH Tingkat II Manado sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 yang
disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.
Hari jadi Kota Manado yang ditetapkan pada tanggal 14 Juli 1623, merupakan
momentum yang mengemas tiga peristiwa bersejarah sekaligus yaitu tanggal 14
yang diambil dari peristiwa heroik yaitu peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946, dimana putra
daerah ini bangkit dan menentang penjajahan Belanda untuk
mempertahankan kemerdekaan Indonesia, kemudian bulan Juli yang diambil dari unsur yuridis
yaitu bulan Juli 1919,
yaitu munculnya Besluit Gubernur Jenderal tentang penetapan Gewest Manado
sebagai Staatgemeentedikeluarkan dan tahun 1623 yang diambil
dari unsur historis yaitu tahun dimana Kota Manado dikenal dan digunakan dalam
surat-surat resmi. Berdasarkan ketiga peristiwa penting tersebut, maka tanggal
14 Juli 1989,
Kota Manado merayakan HUT-nya yang ke-367. Sejak saat itu hingga sekarang
tanggal tersebut terus dirayakan oleh masyarakat dan pemerintah Kota Manado
sebagai hari jadi Kota Manado.
B.Geografi
Kota Manado terletak di ujung jazirah utara pulau Sulawesi, pada
posisi geografis 124°40′ – 124°50′ BT dan 1°30′ – 1°40′ LU. Iklim di kota ini
adalah iklim tropis dengan suhu rata-rata 24° – 27° C. Curah hujan rata-rata
3.187 mm/tahun dengan iklim terkering di sekitar bulan Agustus dan terbasah
pada bulan Januari. Intensitas penyinaran matahari rata-rata 53% dan kelembaban
nisbi ±84 %.
Luas wilayah
daratan adalah 15.726 hektar. Manado juga merupakan kota pantai yang memiliki
garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Kota ini juga dikelilingi oleh
perbukitan dan barisan pegunungan. Wilayah daratannya didominasi oleh kawasan
berbukit dengan sebagian dataran rendah di daerah pantai. Interval
ketinggian dataran antara 0-40% dengan puncak tertinggi di gunung Tumpa.
Wilayah perairan Kota Manado meliputi pulau Bunaken, pulau
Siladen dan pulau Manado Tua. Pulau Bunaken dan Siladen memiliki topografi yang
bergelombang dengan puncak setinggi 200 meter. Sedangkan pulau Manado Tua
adalah pulau gunung dengan ketinggian ± 750 meter.
Sementara itu perairan teluk Manado memiliki kedalaman 2-5
meter di pesisir pantai sampai 2.000 meter pada garis batas pertemuan pesisir
dasar lereng benua.
Kedalaman ini menjadi semacam penghalang sehingga sampai saat ini intensitas
kerusakan Taman Nasional Bunaken relatif rendah.
Jarak dari Manado ke Tondano adalah 28 km, ke Bitung 45 km
dan ke Amurang 58 km.
C.Batas
Wilayah
Batas wilayah Kota Manado adalah sebagai berikut:
D.Pemerintahan
Berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) nomor 4 tanggal 27
September 2000 tentang
perubahan status desa menjadi kelurahan di kota Manado dan PERDA nomor 5
tanggal 27 September 2000 tentang pemekaran kecamatan dan kelurahan, wilayah
kota Manado yang semula terdiri atas 5 kecamatan dengan
68 kelurahan/desa
dimekarkan menjadi 9 kecamatan dengan 87 kelurahan. Tabel di bawah ini adalah
daftar kecamatan beserta luas dan jumlah kelurahannya, yaitu:
No.
|
Kecamatan
|
Luas wilayah (hektar)
|
Jumlah kelurahan
|
1.
|
5.212,5
|
8
|
|
2.
|
1.640
|
9
|
|
3.
|
4.913,55
|
11
|
|
4.
|
144,8
|
7
|
|
5.
|
587,13
|
9
|
|
6.
|
1.588,4
|
12
|
|
7.
|
700,17
|
10
|
|
8.
|
659,95
|
9
|
|
9.
|
279,5
|
12
|
Penduduk
E.Suku Bangsa
Saat ini mayoritas penduduk kota Manado berasal dari suku
Minahasa, karena wilayah Manado merupakan berada di tanah/daerah Minahasa.
Penduduk asli Manado adalah sub suku Tombulu (daerah Wenang, Titiwungen,
Mahkeret – dalam bahasa Tombulu artinya berteriak) daerah Malalayang adalah
suku Bantik, suku bangsa lainnya yang ada di Manado saat ini yaitu suku Sangir,suku
Gorontalo, suku Mongondow, suku Arab, suku Babontehu, suku Talaud, suku
Tionghoa, suku Siau dan kaum Borgo. Karena banyaknya komunitas
peranakan arab, maka keberadaanKampung Arab yang berada
dalam radius dekat Pasar ’45 masih bertahan sampai sekarang dan menjadi salah
satu tujuan wisata agama. Selain itu terdapat pula penduduk suku Jawa, suku Batak, suku
Makassar dan suku bangsa lainnya.
F.Agama
Agama yang dianut adalah Kristen
Protestan, Islam, Katolik, Hindu, Buddha dan agama
Konghucu. Berdasarkan data BPS Kota Manado tahun 2002 (www.manadokota.bps.go.id),
jumlah penduduk yang beragama Kristen/ Katolik di Manado mencapai 68 persen,
sedangkan Muslim 30 persen. dan 2 persen agama lain. Meski begitu heteroginnya,
namun masyarakat Manado sangat menghargai sikap hidup toleran, rukun, terbuka
dan dinamis. Karenanya kota Manado memiliki lingkungan sosial yang relatif
kondusif dan dikenal sebagai salah satu kota yang relatif aman di Indonesia.
Sewaktu Indonesia sedang
rawan-rawannya dikarenakan goncangan politik sekitar tahun 1999 dan berbagai
kerusuhan melanda kota-kota di Indonesia. Kota Manado dapat dikatakan relatif
aman. Hal itu tercermin dari semboyan masyarakat Manado yaitu Torang samua
basudara yang artinya “Kita semua bersaudara”.
G.Bahasa
Bahasa digunakan sebagai bahasa sehari-hari di Manado dan
wilayah sekitarnya disebut bahasa
Melayu Manado (Bahasa Manado). Bahasa Manado menyerupai bahasa
Indonesia tetapi dengan logat yang khas. Beberapa kata dalam dialek
Manado berasal dari bahasa Belanda, bahasa
Portugis dan bahasa asing lainnya.
H.Budaya dan
Gaya Hidup
Musik tradisional dari Kota Manado dan sekitarnya dikenal
dengan nama musik Kolintang. Alat musik Kolintang dibuat dari sejumlah kayu
yang berbeda-beda panjangnya sehingga menghasilkan nada-nada yang berbeda.
Biasanya untuk memainkan sebuah lagu dibutuhkan sejumlah alat musik kolintang
untuk menghasilkan kombinasi suara yang bagus.
Secara umum kehidupan di Kota Manado sama dengan kota-kota
besar lainnya di Indonesia. Pusat kota terdapat di Jalan Sam Ratulangi yang
banyak dibangun pusat-pusat pembelanjaan yang terletak di sepanjang jalur
utara-selatan yang juga dikenal dengan tempat yang memiliki restoran-restoran
terkenal di Manado. Akhir-akhir ini Manado terkenal dengan makin menjamurnya
mal-mal dan restoran-restoran yang dibangun di sepanjang pantai yang
memanfaatkan pemandangannya yang indah di saat menjelangnya matahari terbenam.
I.Kawanua
Masyarakat Manado juga disebut dengan istilah “warga Kawanua“. Walaupun
secara khusus Kawanua diartikan kepada suku
Minahasa, tetapi secara umum penduduk Manado dapat
disebut juga sebagai warga Kawanua. Dalam bahasa daerah Minahasa, “Kawanua” sering
diartikan sebagai penduduk negeri atau “wanua-wanua” yang bersatu atau
“Mina-Esa” (Orang Minahasa). Kata “Kawanua” diyakini
berasal dari kata “Wanua”. Kata “Wanua” dalam bahasa Melayu Tua (Proto Melayu),
diartikan sebagai wilayah pemukiman. Sementara dalam bahasa Minahasa, kata
“Wanua” diartikan sebagai negeri atau desa.
J.Pariwisata
Sebagai kota terbesar di wilayah ini, Manado merupakan
tempat pariwisata yang
penting bagi pengunjung. Ekowisata merupakan atraksi terbesar Manado. Selam Scuba dan snorkelling di
pulau Bunaken juga
merupakan atraksi populer. Tempat lain yang menarik adalah Danau
Tondano,Gunung Lokon, Gunung
Klabat dan Gunung Mahawu.
Dalam kurun waktu dua dekade terakhir, kegiatan pariwisata
dengan pesat tumbuh menjadi salah satu andalan perekonomian kota. Primadona
pariwisata kota Manado bahkan Provinsi Sulawesi
Utara adalah Taman Nasional Bunaken yang
oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia.
Taman Laut Bunaken adalah salah satu dari sejumlah kawasan konservasi alam
atau taman nasional di Indonesia.
Taman Laut Bunaken terkenal oleh formasi terumbu karangnya yang luas dan indah
sehingga sering dijadikan lokasi penyelaman oleh turis-turis mancanegara. Pulau
Bunaken adalah salah satu dari 5 pulau yang tersebar beberapa kilometer dari
pesisir pantai Kota Manado. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota
Manado dan dapat ditempuh dalam sekitar setengah sampai 2 jam, menyebabkan
Taman Nasional ini mudah dikunjungi.
Objek wisata lain yang menonjol di kota Manado adalah Kelenteng Ban Hin
Kiong di kawasan Pusat Kota yang dibangun pada awal abad ke-19dan
diperbaiki pada tahun 1970. Klenteng ini terletak di Jalan Panjaitan. Klenteng ini
terdiri dari bangunan yang dihiasi dengan ukiran-ukiran nagadan tongkat kayu
berapi. Saat yang paling baik untuk mengunjungi klenteng ini yaitu pada
saat Tahun Baru Imlek, saat dipertunjukkannya tarian
tradisional Tionghoa. Juga pada saat kedatangan parade tradisional Tionghoa,
Tai Pei Kong yang berasal dari abad ke-14.
Peristiwa tersebut merupakan festival “Taoist” tahunan terbesar yang diadakan
di Asia Tenggara, sehingga menarik pelancong dari negara
lain. Lokasi wisata lainnya juga adalah Museum Negeri Sulawesi Utara dan
Monumen (Tugu Peringatan) Perang Dunia Kedua.
Sebuah monumen yang diresmikan pada akhir tahun 2007 dan
menjadi ikon baru kota Manado adalah Monumen Yesus Memberkati. Bangunan ini
didirikan di atas bukit di perumahan Citraland Manado dan memiliki ketinggian
50 meter di atas permukaan tanah. Bangunan yang diprakarsai oleh Ir. Ciputra
ini merupakan monumen Yesus Kristus yang tertinggi di Asia dan ke dua di dunia
setelah Christ the Redeemer.
Selain memiliki objek-objek wisata yang menarik, salah satu
keunggulan pariwisata kota Manado adalah letaknya yang strategis ke objek-objek
wisata di hinterland, khususnya di Minahasa yang dapat dijangkau dalam waktu 1
s/d 3 jam dari kota Manado. Objek-objek wisata tersebut antara lain, Vulcano
Area di Tomohon, Desa Agriwisata Rurukan-Tomohon, Panorama pegunungan danDanau
Tondano, Batu Pinabetengan dan Taman Purbakala Waruga Sawangan Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa
Utara.
Karena potensi wisata yang besar tersebut maka industri
pariwisata di kota Manado telah semakin tumbuh dan berkembang yang antara lain
ditandai dengan cukup banyaknya hotel dan sarana pendukung lainnya. Sampai
tahun akhir tahun 2001, terdapat 67 buah hotel/penginapan, 15 buah biro
perjalanan, 223 buah restoran dan rumah makan dari berbagai kelas.
Oleh karenanya meskipun cukup terpengaruh oleh krisis ekonomi
dan situasi nasional yang kurang kondusif, tetapi pariwisata di kota Manado
tetap berlangsung. Pada tahun 1998 kunjungan wisatawan mancanegara adalah
34.509 orang, menjadi 11.538 orang pada tahun 2000 dan agak meningkat pada
tahun 2001 menjadi 12.301 orang. Sedangkan wisatawan Nusantara pada tahun 1998
berjumlah 432.993 orang, kemudian turun menjadi 279.014 orang pada tahun 2000
dan terakhir pada tahun 2001 agak meningkat menjadi 291.037 orang.
K.Manado
Kota Pariwisata Dunia 2010
Untuk meningkatkan potensi pariwisata Manado, Jimmy Rimba Rogi sebagai
Walikota periode 2005 – 2010, mencanangkan Manado sebagai Kota Pariwisata Dunia
2010, pencanangan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan potensi pariwisata di
Kota Manado sehingga dapat diperhitungkan sebagai tujuan wisata dunia kelak.
Beberapa kebijakannya yang paling dikenal adalah dengan melakukan relokasi
Pedagang Kaki Lima (PKL) yang telah lama berdagang di Taman Kesatuan Bangsa
atau dulunya disebut Pasar ‘45 dan mengembalikan fungsi trotoar sebagai tempat
pejalan kaki bukan sebagai tempat berjualan PKL. Upaya yang dilakukannya sangat
berkontribusi dalam hal diraihnya kembali penghargaan Adipura untuk kota Manado
pada tahun 2007.
L.Pusat
Perbelanjaan dan Hiburan
Pusat perbelanjaan di Kota Manado mulanya terkonsentrasi di
seputar Taman Kesatuan Bangsa (TKB)atau Pasar‘45. Seiring dengan pertumbuhan
ekonomi kota Manado, dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini, industri
properti dan retail di Manado berkembang cukup pesat. Bermula dari proyek
reklamasi pantai yang dilakukan selama 10 tahun lebih, dibangun setelah jalan tepi
pantai atau boulevard diresmikan tahun 1993 dan dinamai Jalan Piere
Tendean atau yang lebih dikenal dengan Manado Boulevard.
Setelah reklamasi pantai selesai dibangulah proyek raksasa
dengan dibukanya pusat-pusat perbelanjaan modern baru yaitu Mega Mall Manado, Manado Town Square, Blue Banter City Walk, IT Center Manado, Bahu Mall dan Mega Trade Center. Di
sepanjang jalan ini pun terdapat beberapa hotel berbintang, restoran dan cafe yang
menjajakan beraneka ragam makanan dan buka hingga larut malam. Pusat cinderamata
khas manado dapat ditemukan di Jalan B.W. Lapian. Terdapat beberapa toko
suvenir yang menjual makanan, busana, kerajinan tangan khas Manado/Sulawesi
Utara.
M.Makanan
khas
Makanan khas dari Kota Manado antara lain, Tinutuan yang
terdiri dari berbagai macam sayuran. Tinutuan bukanlah bubur, sebagaimana
selama ini orang mengatakannya sebagai bubur Manado. Selain Tinutuan, terdapat
Cakalang Fufu yaitu ikan cakalang yang diasapi, ikan roa, Paniki (masakan
dari kelelawar)
dan RW (er-we) yaitu masakan dari daging anjing, babi Putar
(1 ekor babi dibakar dengan cara diputar di atas bara api), biasanya
dihidangkan di pesta-pesta, Babi Isi Bulu (terbuat dari daging babi yang diramu
dengan bumbu-bumbu khas manado dan dibakar di dalam bambu). Terdapat juga
minuman khas dari daerah Manado dan sekitarnya yaitu “saguer” yaitu sejenis
arak atau tuak yang berasal dari pohon enau. Saguer ini memiliki
kandungan alkohol,
Cap Tikus (minuman beralkohol tinggi dari proses fermentasi).
Makanan khas kota Manado lainnya yang juga cukup terkenal
adalah nasi kuning yang cita rasa dan penyajiannya berbeda dengan nasi kuning
di daerah lain. Selain itu ada juga masakan kepala ikan kakap bakar. Dabu-dabu
adalah sambal khas Manado yang sangat populer, dibuat dari campuran potongan
cabe merah, cabe rawit, irisan bawang merah dan tomat segar yang dipotong dadu
dan terakhir diberi campuran kecap.
Untuk makanan ringan, Manado juga punya makanan khas sejenis
asinan yaitu gohu dan es kacang. Gohu dibuat dari irisan buah pepaya yang direndam
dalam larutan asam cuka, gula, garam, jahe dan cabe. Selain itu ada juga kue
seperti lalampa (lemper berisi ikan cakalang yang diisi dalam segumpalan beras
ketan dan dibungkus dengan daun pisang lalu dibakar), panada (sejenis roti
goreng berisi ikan cakalang dan dibentuk dengan pilinan pada bagian tepinya),
apang,klapertart manado, kolombeng, panekuk,dodol manado,kueku, pinende,
biapong (babi, wijen, “unti” (terbuat dari kelapa)). Dan yang tidak ketinggalan
adalah, nasi jaha yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan santan,
jahe, bawang merah dan lain-lain, kemudian dimasukan ke dalam bambu lalu
dibakar.
N.Ekonomi
Sebagian besar penduduk Kota Manado bekerja sebagai pegawai
negeri sipil (PNS), guru atau pegawai swasta (41,44%), sebagai wiraswasta
(20,57%), pedagang (12,85%), petani/peternak/nelayan (9,17%), buruh (8,96%).
Sisanya bergerak di sektor jasa dan lain-lain (7%).
Angka Produk Domestik
Regional Bruto (PRDB) Kota Manado tahun 2000 adalah Rp.
2,14 trilyun. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan angka tahun 1994 yang
berjumlah Rp. 703,87 milyar. Tingkat pertumbuhan yang dicapai dalam kurun waktu
tersebut rata-rata 6,11% per tahun. Pada tahun 1994 sampai 1996 angka
pertumbuhan berada di atas 10% kemudian melambat menjadi 2,92% pada tahun 1997 dan 0,32%
ditahun 1998 dimana
merupakan angka terendah. Pada tahun 1999, pertumbuhan
meningkat lagi menjadi 1,60% dan ditahun 2000 menjadi
5,62%.
Sejak munculnya krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun
1997, perekonomian kota Manado sangat terpengaruh. Hal ini dapat dilihat dari
meningkatnya angka pengangguran yang diperkirakan pada tahun 2000 masih sebesar
20.465 orang atau 13.67% dan meningkatnya jumlah keluarga miskin sebanyak
19.754 Kepala Keluarga (KK) atau 24,60%. Pada tahun 1999, terdapat indikasi
adanya pemulihan perekonomian kota yang signifikan. Pendapatan perkapita kota
Manado naik dari Rp 1.753.482 pada tahun 1994 menjadi Rp
4.452.672 pada tahun 2000.
Perekonomian kota Manado khususnya terdiri dari sektor
perdagangan, perhotelan dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi serta
sektor jasa. Pada tahun 1996 peran ketiga sektor utama ini dalam pembentukan PDRB
adalah sejumlah 68,74%. Dalam kurun waktu 5 tahun, peran ketiga sektor ini
cenderung semakin dominan yang dilihat dari kontribusinya pada tahun 2000 yang
meningkat menjadi 74,68%. Laju inflasi kota
Manado selama kurun waktu dua tahun terakhir (2000-2001) sangat berfluktuatif.
Pada tahun 2000 sempat mengalami deflasi sebanyak
lima kali yaitu masing-masing pada bulan Januari sebesar –0,25%, April –0,08%,
Mei -0,13%, Agustus -0,85% dan Desember -0,16%. Sedangkan inflasi tertinggi
terjadi pada bulan pada bulan Oktober yaitu sebesar 4,05%. Sehingga secara
kumulatif inflasi yang terjadi di Manado sebesar 11,41%. Pada tahun 2001
terjadi deflasi sebanyak 3 kali, yaitu pada bulan Februari sebesar –0,56%,
Agustus -0,23% dan Desember sebesar –0,26%. Sedangkan inflasi tertinggi pada
tahun 2001 terjadi pada bulan Juli yaitu sebesar 2.83% dimana secara kumulatif
inflasi pada tahun 2001 mencapai 13,30%.
O.Transportasi
1.Udara
Bandar
Udara Sam Ratulangi
Kota Manado
melalui bandar udaranya, Sam Ratulangi terhubung dengan
beberapa kota besar lain di Indonesia seperti, Jakarta, Surabaya,Makassar dan Balikpapan.
Selain itu bandara ini juga mempunyai penerbangan langsung dari dan ke luar
negeri yaitu Singapura, Manila, Kuala
Lumpur (mulai 12 September 2008) dan Davao, Filipina.
Bandara yang mengalami renovasi pada tahun 2001 ini merupakan salah satu dari
11 pintu gerbang utama pariwisata di Indonesia. Dengan panjang landas pacu
sepanjang 2650 m dan lebar 45 m, bandara ini sanggup untuk didarati pesawat
berbadan lebar sejenis Boeing
777-200 dan Airbus A330. Terminal penumpangnya memiliki fasilitas
penunjang berstandar internasional dan dilengkapi dengan empat buah garbarata.
2.Laut
Dermaga di Manado umumnya dilayani oleh kapal-kapal berukuran
kecil. Hal ini dikarenakan lokasi perairan Manado yang berdekatan dengan lokasi
Taman Laut Bunaken yang
dilindungi dan juga perairan yang cukup dangkal. Pada umumnya, kapal-kapal yang
bersandar di pelabuhan Manado adalah kapal dengan tujuan Kepulauan Sangir dan
Kepulauan Talaud. Speed boat dari dan menuju Bunaken umumnya
berlabuh di dermaga ini. Kapal-kapal berukuran besar milik PT. Pelni berlabuh
di kota Bitung,
berjarak kurang lebih 40 km sebelah timur Manado.
3.Darat
Sistem transportasi darat Kota Manado dilayani oleh minibus
angkutan kota yang biasa disebut mikrolet, taksi
argo dan Bus DAMRI, tapi bus yang beroprasi di dalam kota sudah tidak ada.
Sebagian besar rute dalam kota dilayani oleh mikrolet yang menghubungkan
beberapa terminal bus dalam maupun luar kota dengan pusat kota Manado. Mikrolet
umumnya beroperasi hingga pukul 22.00 wita (hari kerja) atau pukul 00.00 wita
(akhir pekan). menaiki transportasi umumnya mikrolet di manado ada yang unik,
umumnya Mikrolet di manado sudah di modifikasi dan dilengkapi dengan sound
system, ada juga yang menaruh layar LCD bahkan ada juga yang memodifikasi
bagian interior mobil, ini untuk memenuhi tingkat kenyamanan penumpang dan
taksi umumnya melayani rute-rute ke luar kota sedangkan Bus DAMRI melayani rute
Bandara – Terminal Bus luar kota di Malalayang.